Salah seorang guru MAN 3 Jombang saat menunjukkan handphone rampasan yang belum dimusnahkan. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Salah seorang guru MAN 3 Jombang saat menunjukkan handphone rampasan yang belum dimusnahkan. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)



Video pemusnahan handphone dengan cara dipukuli palu di sebuah sekolah di Jombang mendadak viral di media sosial. Viralnya pemusnahan handphone tersebut setelah rekaman vedeo diunggah di media jejaring sosial.

Video berdurasi 2 menit 38 detik ini diunggah oleh akun Facebook Sigit Budi Purwoko pada Kamis (4/7) pukul 08.24 WIB. Dalam keterangan akun Facebooknya, Sigit diketahui sebagai seorang karyawan di MAN 3 Jombang.

Pada keterangan video yang diunggah Sigit ini, terlutis bahwa pemusnahan handphone tersebut terjadi saat acara MATSAMA di MAN 3 Jombang. Saat itu, unggahan video pemusnahan ratusan ponsel siswa ini disukai 239 netizen dan mendapatkan 179 komentar. Para netizen tercatat 552 kali video tersebut.

"Pemusnahan barang sitaan (HP dan acesorisnya) pada acara MATSAMA sbg bukti komitmen MAN 3 Jombang pada aturan yg berlaku dilingkungan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas," tulis Sigit pada unggahan video di akun Facebooknya.

Di dalam video yang diunggah Sigit ini, terlihat ratusan handphone dari berbagai model dan merk tertata rapi di atas meja. Sedangkan sejumlah guru terlihat berdiri di belakang meja dengan tampak membawa palu.

Pengamatan JatimTIMES terhadap video tersebut, pemusnahan handphone dimulai setelah seorang guru membacakan basmalah dan bersalawat. Setelah itu, 3 guru yang sudah siap membawa palu di belakang meja langsung memukulkan palunya ke ratusan ponsel yang telah tertata rapi sebelumnya.

Pemusnahan ponsel ini, juga disaksikan oleh seluruh siswa di sekolah tersebut. Saat handphone mulai dimusnahkan dengan cara dipukuli palu, terdengar sorak sorai dari sisi depan meja yang diisi oleh para siswa yang menyaksikan.

Sementara, pihak MAN 3 Jombang saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut berada di sekolahnya.

 

 

Wakil Kepala MAN 3 Jombang Bidang Kesiswaan, Moch Syifa' mengatakan, bahwa handphone adalah salah satu barang yang dilarang sesuai peraturan yang dibuat oleh madrasah di lingkungan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas ini. Karena handphone dinilai lebih banyak membawa dampak negatif daripada positifnya.

"Ini sudah jadi peraturan dari madrasah dan Yayasan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, bahwa Hp (handphone, red) mutlak dilarang bagi santri dan siswa," jelasnya saat diwawancarai di MAN 3 Jombang, Sabtu (6/7) pagi.

Pemusnahan handphone hasil rampasan ini sendiri, dikatakan Syifa', telah menjadi kesepakatan wali murid saat pertama kali mendaftarkan anaknya ke madrasah tersebut. Peraturan larangan membawa handphone bagi siswa dan santri ini telah dibuat Madrasah dan Yayasan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas sejak 10 tahun yang lalu.

"Aturan ini sudah diteken segenap majelis pengasuh, pengurus yayasan, pengurus madrasah, termasuk wali murid di awal tahun melalui pakta integritas bermaterai," terangnya.

Syifa' juga menerangkan, rampasan handphone siswanya ini sengaja dilakukan pemusnahan dengan cara dihancurkan dengan palu di hadapan para siswa. Hal tersebut dilakukan karena agar menjadi pelajaran bagi para siswa baru agar tidak melanggar aturan yang telah dibuat.

Pemusnahan handphone ini diketahui dilakukan saat acara Masa Ta'aruf Siswa Madrasah (MATSAMA), atau yang biasa dikenal sebagai masa orientasi siswa baru.

"Pemusnahan handphone ini sebagai bentuk transparansi kepada wali murid dan siswa. Kalau tidak dihancurkan di hadapan siswa, akan timbul fitnah. Ini juga sebagai shock terapi bagi para siswa untuk tidak melanggar aturan," tandasnya.

Masih menurut Syifa', handphone rampasan ini sengaja tidak dijual dikarenakan pihak MAN 3 Jombang menghindari fitnah yang dimungkinkan bisa terjadi.

"Kalau ada kritikan untuk dijual dan hasilnya disumbangkan itu masih akan dikaji. Tapi itu tidak menutup kemungkinan akan menjadi suudzon. Nanti kalau dijual, masalah harga ramai lagi. Rumit itu, akhirnya pemusnahan ini menjadi keputusan," pungkasnya.(*)

Tag's Berita

End of content

No more pages to load