Sejumlah pendaki saat memulai pendakian setelah melakukan registrasi di pos perijinan gunung anjasmoro, Kabupaten Jombang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Sejumlah pendaki saat memulai pendakian setelah melakukan registrasi di pos perijinan gunung anjasmoro, Kabupaten Jombang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)


Pewarta

Adi Rosul

Editor

Heryanto


objek-objek wisata selalu menjadi tujuan bagi masyarakat untuk menikmati momen tahun baru pada setiap tahunnya. 

Mulai dari wisata keluarga, wisata edukasi, hingga wisata alam. 

Nah, di setiap momen tahun baru ini, sejumlah pegunungan juga tidak luput diserbu oleh wisatawan untuk menghabiskan sisa tahun dan menyambut tahun baru 2019. 

Salah satunya Gunung Anjasmoro yang terletak di Kabupaten Jombang ini. Secara geografis, Gunung Anjasmoro ini berada di ketinggian 3.282 meter diatas permukaan laut (mdpl), dan terletak di Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.

Sedangkan, lokasi desa terakhir di lereng Gunung Anjasmoro jaraknya tidak begitu jauh dari pusat kota Jombang. 

Kurang lebih 20 kilometer dari pusat kota, dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan dari pusat kota menuju Dusun Segunung, Desa Carangwulung tersebut. 

Pada musim liburan tahun baru ini, para pengunjung untuk melakukan pendakian Gunung Anjasmoro mengalami peningkatan. 

Hal tersebut dijelaskan oleh Supriyono (41), petugas perijinan di pos perijinan pendakian Gunung Anjasmoro. 

Menurut pria yang akrab disapa Cak Kancil ini, pengunjung Gunung Anjasmoro meningkat hingga ratusan orang pada saat libur tahun baru. 

Dibandingkan dengan hari-hari biasanya yang hanya dikunjungi kurang dari 100 orang di setiap bulannya. 

"Untuk akhir tahun ini (libur tahun baru 2019, red), sangat meningkat sampai 50 persen. Alasannya karena libur panjang. Biasanya hanya 50 pengunjung," ungkap Cak Kancil saat diwawancarai JombangTIMES di Pos Perizinan Pendakian Gunung Anjasmoro, Sabtu (29/12) sore. 

Untuk melakukan pendakian di Gunung Anjasmoro ini, Cak Kancil menghimbau kepada para pendaki untuk tetap menjaga lingkungan dengan tidak meninggalkan sampah dari logistik yang dibawa oleh para pendaki. 

"Ya alhamdulillah para pendaki kesadaran terhadap sampah sudah bagus. Yang lebih saya tekankan hanya etika di perjalanan. Seperti kalau mau buang air atau buang hajat harus permisi dulu dan jangan sembarangan. Karena untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," imbuhnya. 

Sedangkan, jarak tempuh ke puncak Gunung Anjasmoro, diperlukan waktu 5 sampai 6 jam perjalanan dengan melawati 5 pos pendakian.

Yakni, pos kancil (watu tretes), pos salwa, pos bambu, puncak bayangan, dan puncak cemoro sewu (puncak anjasmoro). 

Masih dari penjelasan Cak Kancil, rata-rata para pendaki Gunung Anjasmoro ini, menghabiskan waktu antara 2 hingga 3 hari pendakian. 

Untuk tiket masuk pendakian sendiri, pihak perijinan pendakian gunung anjasmoro hanya mematok tiket dengan harga Rp 5 ribu setiap orangnya, tanpa batas lama waktu pendakian. 

"Tiketnya Rp 5 ribu. Tidak ada batas waktu sih, terserah pendaki mau berapa lama. Perijinan juga tidak ketat, cukup identitas diri saja, sama ninggal nomor telpon," jelasnya. 

Gunung Anjasmoro ini memang tergolong cukup sepi dibandingkan gunung-gunung di Jawa Timur yang sudah populer di kalangan pendaki, seperti Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Gunung Arjuno yang terletak diantara Kabupaten Pasuruan dan Malang, serta Gunung Penanggungan di Kabupaten Mojokerto. 

Sepinya Gunung Anjasmoro dari para pendaki ini, menjadi salah satu alasan bagi para pendaki untuk melakukan pendakian di penghujung tahun 2018. 

Seperti yang dijelaskan oleh pendaki asal Kabupaten Tuban, Afif Irwansyah (16). Afiif yang melakukan pendakian bersama dua temannya, yakni Dafa (16) dan Hendri (17), lebih memilih Gunung Anjasmoro katimbang gunung-gunung lainnya karena kondisi Anjasmoro yang sepi dan masih terjaga keasriannya. 

"Di sini masih sepi mas. Anjasmoro hutannya tropis, bersih dari sampah. Ini yang bikin nyaman. Jalurnya juga masih setapak masih asli, kalau gunung-gunung yang lain udah lebar," bebernya saat diwawancarai sesuai turun dari pendakian Anjasmoro. 

Senada dengan kelompok pendaki dari Kabupaten Tuban tersebut, pendaki asal Jombang bernama Ahmad Robiul (22) ini, juga mengatakan hal serupa. 

Ia memilih Gunung Anjasmoro dikarenakan tertarik dengan kondisi gunung yang masih asri dan terjaga ekosistemnya. 

"Tertarik karena katanya hutannya masih asri, flora faunanya juga masih terjaga. Kalau ke gunung-gunung yang lain sih pasti banyak pengujung juga kan, enak disini nyaman bisa menikmati alam dengan tenang," pungkasnya.(*)

 

Tag's Berita jombang berita jombang

End of content

No more pages to load