Lepas Pendopo, Apa Untungnya bagi Sanusi? (6)

Nyatakan Namanya Dicatut dalam Pusaran Alih Fungsi Pendopo, Iwan: Saya Tak Pernah Diajak Bicara Sanusi

Ilustrasi sosok Iwan Kurniawan
Ilustrasi sosok Iwan Kurniawan

JOMBANGTIMES, MALANG – Desas-desus terkait masa depan Pendopo Agung Kabupaten Malang, yang segera dialihfungsikan menjadi hotel komersil kian santer beredar di kalangan elit pemerintahan. 

Hingga kini, ada dua nama yang didengungkan bakal menjadi pihak ketiga yang akan menerima limpahan bisnis mega proyek tersebut.

Selain mencatut nama Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Malang, Willem Petrus Salamena,  nama pengusaha kondang Iwan Kurniawan juga disebut-sebut  masuk dalam pusaran pihak ketiga yang diduga akan mendanai proses alih fungsi Pendopo Agung Kabupaten Malang menjadi area komersil.

Berangkat dari informasi inilah, MalangTIMES lalu menggali informasi keberadaan bos besar PT Anugrah Citra Abadi (ACA) tersebut. 

Belakangan diketahui, sejak akhir bulan Februari lalu, Iwan Kurniawan sedang berada di luar kota untuk agenda bisnis yang dilakoninya.

Kami pun mencoba menghubungi nomor yang bersangkutan. Namun, meski terdengar nada hubung, nyatanya telepon dari kami tidak mendapatkan respons. Kami lantas mencoba menghubunginya melalui pesan WhatsApp (WA).

“Mas ..sy (saya) lg (lagi) di luar kota mas...nti (nanti) klau (kalau) pulang ta hub (hubungi) yo mas...suwun (terimakasih),” begitu kurang lebih jawaban Iwan dari pesan WA, saat dikonfirmasi akan keterlibatannya dalam mega proyek alih fungsi Pendopo Agung Kabupaten Malang.

“Sy (saya) lagi rapat mas,” sambung iwan saat menjawab ajakan wartawan untuk berbicara dengan yang bersangkutan via selulernya, Rabu (27/2/2019) lalu.

Mendapat jawaban tersebut, kami menunggu kabar terbaru dari Komisaris Utama PT ACA tersebut. Namun hingga Kamis (28/2/2019) keberadaan Iwan belum juga diketahui secara pasti.

Hingga akhirnya, Jumat (1/3/2019 kami mendapat informasi jika agenda rapat di luar kota yang dijalani Iwan sudah kelar. 

Mendapat kabar tersebut, wartawan mencoba untuk menghubunginya kembali.

“Sy lg di sby (saya lagi di surabaya)...apa ada yg (yang) urgent (penting) mas...wa aja klau (kalau) urgent sekali,” tulis Iwan dalam pesan WhatsApp saat ditanya akan keberadaannya.

Mendapat balasan tersebut, kami mencoba minta izin bertemu guna membahas namanya yang disebut-sebut sebagai investor yang akan digandeng Plt Bupati Malang HM Sanusi untuk mengubah Pendopo Agung Kabupaten Malang menjadi area bisnis meliputi hotel dan tempat wisata sejarah.

“Nti (nanti) aja klau (kalau) sampai kantor ...kita ketemu ya...skrang lg otw (sekarang lagi on the way),” sambung Iwan sembari mengatakan jika pihaknya lewat jalan tol agar cepat sampai ke Malang.

Sekitar 1,5 jam pasca percakapan tersebut, Iwan kembali mengabarkan jika dirinya sudah menunggu kedatangan MalangTIMES di kantornya. 

Setibanya di PT ACA, kami langsung disambut oleh petugas keamanan di kantor yang berlokasi di Jalan Jaksa Agung Suprapto Kecamatan Klojen Kota Malang tersebut.

Tidak berselang lama setelah itu, kami diperkenankan menunggu di ruang resepsionis.

“Bapak masih ada tamu, tunggu sebentar mas. Tadi bapak sempat menanyakan kedatangan masnya sebanyak dua kali,” kata petugas resepsionis PT ACA.

Tidak berselang lama, MalangTIMES diperkenankan untuk masuk ke dalam ruang kantor, yang langsung disambut dengan jabat tangan dari  Iwan. “Halo mas bagimana, apa yang mau ditanyakan,” saut Iwan dengan senyum ramah.

Dalam ruang kantor mewah yang berukuran sekitar 7 x 7 meter itu, nampak satu meja kerja dan televisi LED berukuran jumbo. Sembari menurunkan volume suara televisi, Iwan sesekali menceritakan tentang rutinitas dan kesibukannya diusianya yang sudah lebih dari 60 tahun.

Setelah sempat bercengkrama sekitar 10 menit, kami kemudian mulai membuka percakapan dengan tema alih fungsi pendopo agung yang berlokasi di Jalan KH Agus Salim Kota Malang, yang menyeret namanya ke dalam pusaran sebagai pihak ketiga. “Itu isu sudah lama, kok kembali muncul ya. Anda dengar dari siapa, tolong diusut apa maksudnya,” ucap Iwan dengan nada kesal.

Kami mencoba untuk menjaga identitas narasumber MalangTIMES, yang mencatut namanya tersebut. Mendengar hal ini, Iwan kemudian menegaskan jika pihaknya sama sekali tak terlibat dalam  rencana alih fungsi pendopo tersebut.  Dan menganggap bahwa itu hanya isu belaka, kabar yang tak bertanggung jawab.

“Saya sudah tua mas, sudah tidak minat berbisnis lagi. Beberapa bisnis saya sudah banyak yang saya lepas. Saya pastikan sejak zaman Bupatinya Sujud hingga Rendra, saya tidak pernah terlibat pembahasan alih fungsi pendopo yang bakal dijadikan hotel,” tegasnya.

Namun, saat ditanya apakah sebelum zaman kepemimpinan Sujud Pribadi dirinya sempat terlibat pembahasan alih fungsi pendopo, Iwan hanya tersenyum dan buru-buru mengalihkan topik pembahasan tanpa memberikan jawaban yang kami ajukan.

Iwan menambahkan, selain karena birokrasi yang ribet dirinya juga beralasan jika ada bangunan masjid di sekitar Pendopo Agung. Belum lagi jika ada demo terkait warga yang tidak setuju akan alih fungsi pendopo tentu akan membuat dirinya repot. Oleh karena itu, ia mengaku harus mempertimbangkan banyak hal jika memang akan terlibat pembangunan Pendopo Agung menjadi hotel tersebut.

“Pebisnis saat ini sudah banyak yang jenuh berbisnis hotel di Malang. Sebab sudah banyak hotel di Kota Malang. Jika ada pebisnis yang mau menerima tawaran alih fungsi Pendopo Agung menjadi hotel, saya rasa hanya pengusaha (maaf) bodoh saja,” terang Iwan sembari tertawa.

Selain seabrek pertimbangan tersebut, Iwan juga menuturkan jika tren bisnis hotel mengarah ke kawasan Malang pinggirian. Yakni arah ke Surabaya, bukannya di pusat kota seperti di lokasi Pendopo Agung Kabupaten Malang.

“Akhir-akhir ini okupansi hotel ada di kisaran antara 30-40 persen, itu sangat jauh dari yang diharapkan. Padahal standartnya hotel harus mendapatkan hasil break event point antara 50-60 persen. Makanya saya sudah tidak minat menambah bisnis hotel lagi,” dalih Iwan sambil menggaruk janggutnya. “Mungkin karena pendopo jarang digunakan, membuat isu alih fungsi ini kembali menyeruak ke permukaan,” sambung Iwan.

Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jombangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jombangtimes.com | marketing[at]jombangtimes.com
Top