Sempat Tumbang, Pohon Gada di Rumah Masa Kecil Bung Karno Disulap Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

Nampak seniman sedang memahat pohon gada di Istana Gebang (Foto : Team BlitarTIMES)
Nampak seniman sedang memahat pohon gada di Istana Gebang (Foto : Team BlitarTIMES)

JOMBANGTIMES, BLITAR – Pohon Gada di Istana Gebang Kota Blitar yang sempat tumbang beberapa waktu lalu, kini disulap menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi. Pohon tua nan langka yang ditanam setelah 40 hari wafatnya Bapak Proklamator Indonesia ini, kini menjadi ukiran patung sang Presiden Sukarno beserta ayah ibunya dan juga sebuah kentongan yang berisi ukiran kisah Ramayana.

Beberapa seniman yang tergabung dalam Sanggar Kriya Ukir Pinggalih ini berinisiatif untuk membuat sebuah kenang-kenangan yang nantinya akan dipajang di depan rumah masa kecil Bung Karno ini.

Pengukiran kayu pohon gada dipimpin oleh seniman Ki Amang Makmur ditemani Bondan Widodo, Wisnu Hananta dan beberapa seniman lainnya.

“Ketika pohon langka ini ambruk, kita para seniman berkumpul untuk membuat sebuah karya seni untuk bangsa. Tapi awalnya bentuknya apa kita belum tahu, terus kita rituali dengan nyekar ke kakaknya Bung Karno yang menanam pohon ini, akhirnya kita sepakat untuk membuat ukiran patung Bung Karno, beserta ayah dan ibunya dan yang satu ini kita buat kentongan berukiran kisah Ramayana, jelas Ki Amang Makmur saat ditemui BLITARTIMES di Halaman Istana Gebang, Senin (11/02/2018). 

Untuk pengerjaan karya seni ini mereka tidak mematok bayaran sama sekali. Tak kenal waktu siang dan malam mereka bekerjasama mengukir pohon gada ini di halaman Istana Gebang. Di tangan mereka, para seniman ingin menginspirasi bahwa barang apapun yang dihasilkan bumi bisa dimanfaatkan. Seperti halnya kayu tumbangan pohon gada ini bisa menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi dengan modal kreativitas dan keuletan.

Pengerjaan karya seni ukiran ini menurut Ki Amang dimulai sejak 10 November 2018 yang lalu dan saat ini pengerjaannya sudah sekitar 50 persen. Bentuk badan Bung Karno tampak gagah dengan seragam militer khasnya. Dan kentongan berukir kisah Ramayana sudah tampak jelas dan dapat dibaca alur ceritanya.

“Kentongan ini dulu adalah alat komunikasi tempo dulu. Terus untuk menambah kita beri ukiran ini, jadi kisah Ramayana ini menceritakan tentang kisah Rahwana saat menculik Sinta. Kenapa demikian, karena kisah ini mirip dengan kondisi negara kita sekarang,” sambungnya.

Ki Amang menjelaskan ukiran kisah Ramayana tersebut memiliki makna yang dalam tentang kondisi negara Indonesia saat ini. Dimana sosok Rahwana yang melambangkan sifat keangkuhan menculik Sinta yang digambarkan sebagai Ibu Pertiwi. Dan sosok Garuda yang berusaha menolong Sinta digambarkan sebagai lambang negara pun akan kalah jika para pemimpinnya dikuasai oleh sifat keangkuhan.

“Oleh karenanya di sini ada sosok Anoman yang dalam bahasa Jawa diibaratkan sebagai sosok ‘nom-noman’, yaitu kalian para pemuda yang memiliki sifat adil dan bijak yang rela berkorban untuk menolong Ibu Pertiwi dari sifat angakara murka,” jelasnya.

Rencananya karya seni yang mereka buat akan selesai sebelum bulan Juni, dan akan dipersembahkan pada perayaan bulan Bung Karno mendatang. Nantinya semua ukiran tersebut akan dipersembahkan untuk karya seni Kebangsaan di wisata Istana Gebang.

“Untuk pengerjaan karya seni ini memang butuh keuletan dan ketalenan, soalnya kami belum tau kualitas kayunya seperti apa, tapi yang jelas kayu ini seratnya besar-besar jadi gampang patah saat dipahat. Selain itu, menghadapi pertengahan musim hujan ini kemaren juga baru disemprot anti hama agar tidak terganggu,” pungkasnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jombangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jombangtimes.com | marketing[at]jombangtimes.com
Top