DLH Jombang Sanksi Perusahaan yang Cemari Sungai di Jatipelem Jombang

Kondisi perusahaan pengolahan plastik milik CV Pandu Kencana di Desa Godong, Kecamatan Gudo, terlihat tak beroperasi pasca sanksi pemberhentian produksi yang diberikan oleh DLH Jombang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Kondisi perusahaan pengolahan plastik milik CV Pandu Kencana di Desa Godong, Kecamatan Gudo, terlihat tak beroperasi pasca sanksi pemberhentian produksi yang diberikan oleh DLH Jombang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

JOMBANGTIMES – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang memastikan penyebab munculnya busa setinggi 5 meter yang menutupi aliran sungai di Dusun Dukuh, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, berasal dari limbah perusahaan pengolahan daur ulang plastik yang berada di Desa Godong, Kecamatan Gudo. 

Menurut keterangan Kepala DLH Kabupaten Jombang, Yudhi Adriyanto, bahwa memang benar busa yang menutupi sungai di Dusun Dukuh itu mengandung unsur deterjen. Limbah deterjen tersebut berasal dari CV Pandu Kencana, yang merupakan perusahaan pengolahan daur ulang plastik. 

"Itu ternyata limbah deterjen. Jadi memang hasil pengolahan daur ulang plastik dari sebuah industri," ungkapnya saat diwawancarai di kantornya, Rabu (9/1). 

Selain itu, dijelaskan Yudhi, penyebab tercemarnya air sungai dikarenakan perusahaan tersebut belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Sehingga saat melakukan proses pencucian plastik bekas deterjen, perusahaan hanya menggunakan bak penampungan yang tidak memenuhi standart. Alhasil, sambung Yudhi, limbah deterjen tersebut meluber ke aliran sungai dekat pabrik. 

"Jadi pembersihan plastik sebelum diolah kembali itu dimasukan ke penampungan. Manakala hujan lebat, ini meluber hingga keluar ke saluran irigrasi, sampai ke sungai. Saat sidak kita mendapati perusahaan tidak memiliki IPAL," beber Yudhi. Selain itu, Yudhi menemukan sejumlah hal yang dilanggar oleh perusahaan milik Pujo Hartono itu. Seperti, izin pengolahan limbah cair dan belum adanya IPAL.

"Ada beberapa hal yang mereka langgar. Dia melakukan kegiatan yang menghasilkan limbah cair, tapi belum memiliki izin pengolahan limbah cair," terangnya. Melihat pelanggaran yang dilakukan oleh CV Pandu Kencana ini, lantas pihak DLH secara tegas memberikan sanksi pemberhentian sementara kegiatan produksi.

"Kita lakukan sanksi, hari ini kita luncurkan surat. Sanksinya langsung pada tindakan kedua, yakni pemberhentian kegiatan sementara. Jadi harus berhenti produksi sampai dia memiliki IPAL," tegas Kepala DLH Kabupaten Jombang.

Sementara, pemilik CV Pandu Kencana, Pujo Hartono saat ditemui di perusahaannya, di Desa Godong, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, mengatakan, bahwa pihaknya baru pertama mengolah plastik dari bekas kemasan deterjen itu. Dia mengaku akan mengembalikan plastik bekas kemasan deterjen ke pihak penyuplai.

"Untuk sementara produksi dari plastik bekas sabun itu kita hentikan. Nanti akan kita kembalikan lagi karena sangat merugikan saya. Ini baru pertama kali kok," jelasnya saat dikonfirmasi. 

Sedangkan, Pujo juga mengatakan bahwa pihaknya dapat kiriman plastik bekas kemasan deterjen itu dari salah satu perusahan deterjen di Surabaya, sebanyak 4 ton plastik bekas. Namun, ia mengatakan, baru mengolah plastik tersebut sejumlah kurang dari 4 kuintal. 

"Baru sedikit yang kita olah, kurang dari 4 kuintal. Dan itu sudah bermasalah," ujarnya. Lantas, menanggapi sanksi yang diberikan oleh DLH Kabupaten Jombang terhadap perusahaannya, Pujo menandaskan, bahwa pihaknya akan mentaati sanksi tersebut dengan memperbaiki sistem IPAL. Untuk produksi sendiri, dirinya akan memberhentikan sementara kegiatan di perusahaannya sampai adanya IPAL. 

"Ini untuk sementara perbaikan IPAL untuk limbahnya itu. Sementara untuk produksi plastik dari bekas sabun itu kita hentikan," pungkasnya.(*)

 

Pewarta : Adi Rosul
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Jombang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jombangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jombangtimes.com | marketing[at]jombangtimes.com
Top